Kamis, 31 Desember 2015

SYUKUR

                                                           بسم الله الرحمن الرحيم

Nabi Muhammad Saw. pun bersabda: Allah senang melihat bekas (bukti) nikmat-Nya dalam penampilan hamba-Nya (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi). Sementara ulama ketika menafsirkan firman Allah, "Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari
(nikmat)-Ku" (QS Al-Baqarah [2]: 152), menjelaskan bahwa ayat ini mengandung perintah untuk mengingat Tuhan tanpa melupakannya, patuh kepada-Nya tanpa menodainya dengan kedurhakaan. Syukur orang demikian lahir dari keikhlasan kepada-Nya, dan karena itu, ketika setan menyatakan bahwa, "Demi kemuliaan-Mu, Aku akan menyesatkan mereka
manusia) semuanya" (QS Shad [38]: 82), dilanjutkan dengan pernyataan pengecualian, yaitu, "kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlash di antara mereka" (QS Shad [38]:83).
Dalam QS Al-A'raf (7): 17 Iblis menyatakan, "Dan Engkau tidak akan menemukan kebanyakan dari mereka {manusia) bersyukur." Kalimat "tidak akan menemukan" di sini serupa maknanya dengan pengecualian di atas, sehingga itu berarti bahwa orangorang yang bersyukur adalah orang-orang yang mukhlish (tulus hatinya). Dengan demikian syukur mencakup tiga sisi:
1. Syukur dengan hati, yaitu kepuasan batin atas anugerah.
2. Syukur dengan lidah, dengan mengakui anugerah dan memuji pemberinya.
3. Syukur dengan perbuatan, dengan memanfaatkan anugerah yang diperoleh sesuai dengan tujuan penganugerahannya.
Telah kita kemukakan secara umum nikmat-nikmat-Nya yang mengharuskan adanya syukur. Dalam beberapa ayat lainnya juga disebutkan nikmat-nikmat Allah yang harus disyukuri, antara lain:
1. Kehidupan dan kematian Bagaimana kamu mengkufuri (tidak mensyukuri nikmat Allah, padahal tadinya kamu tiada, lalu kamu dihidupkan, kemudian kamu dima􀆟kan, lalu dihidupkan kembali. (QS Al Baqarah [2]: 28).
2. Hidayat Allah Hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur (QS Al-Baqarah [2]: 185).
3. Pengampunan-Nya, antara lain dalam firman-Nya. Kemudian setelah itu Kami maafkan kesalahanmu agar kamu bersyukur (QS Al-Baqarah [2]: 52)
4. Pancaindera dan akal Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati, supaya kamu bersyukur (QS An-Nahl [16]: 78).
5. Rezeki Dan diberinya kamu rezeki yang baik-baik agar kamu bersyukur (QS Al- Anfal [8]: 26).
6. Sarana dan prasarana antara lain Dan Dialah (Allah) yang menundukkan lautan (untukmu) agar kamu dapat memakan daging (ikan) yang segar darinya, dan kamu mengeluarkan dan lautan itu perhiasan yang kamu pakai, dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dan karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur (QS An-Nahl [16]:14) .
7. Kemerdekaan Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, "Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atas kamu ketika Dia mengangkat nabi-nabi diantaramu, dan dijadikannya kamu orang-orang yang merdeka (bebas dari penindasan Fir'aun) (QS Al-Maidah [5]: 20) Masih banyak lagi nikmat-nikmat lain yang secara eksplisit disebut oleh Al Quran. Dalam surat Ar-Rahman (surat ke- 55), Al-Quran membicarakan aneka nikmat Allah dalam kehidupan dunia ini dan kehidupan akhirat kelak. Hampir pada setiap dua nikmat yang disebutkan.
Quran mengulangi satu pertanyaan dengan redaksi yang sama yaitu: “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu ingkari?” Pertanyaan tersebut terulang sebanyak tiga puluh satu kali. Sementara ulama menganalisis jumlah itu dan mengelompokkannya untuk sampai pada suatu kesimpulan:
Delapan pertanyaan berkaitan dengan nikmat-nikmat Tuhan dalam kehidupan di dunia ini, antara lain nikmat pengajaran Al-Quran, pengajaran berekspresi, langit, bumi, matahari, lautan, tumbuh-tumbuhan, dan sebagainya.
Tujuh pertanyaan berkaitan dengan ancaman siksa neraka di akhirat nanti. Perlu diingat bahwa ancaman adalah bagian dari pemeliharaan dan pendidikan, serta merupakan salah satu nikmat Tuhan. Delapan pertanyaan berkaitan dengan nikmat-nikmat Tuhan yang diperoleh dalam surga pertama.
Delapan pertanyaan berkaitan dengan nikmat-nikmat-Nya pada surga kedua. Dari hasil pengelompokan demikian, para ulama menyusun semacam "rumus", yaitu siapa yang mampu mensyukuri nikmat-nikmat Allah yang disebutkan dalam rangkaian delapan pertanyaan pertama syukur seperti makna yang dikemukakan di atas maka ia akan selamat dari ketujuh pintu neraka yang disebut dalam ancaman dalam tujuh pertanyaan berikutnya. Sekaligus dia dapat memilih pintu-pintu mana saja dari kedelapan pintu surga, baik surga pertama maupun surga kedua, baik Surga (kenikmatan duniawi) maupun kenikmatan ukhrawi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar