Nabi Muhammad Saw. pun bersabda: Allah senang melihat bekas (bukti) nikmat-Nya dalam penampilan hamba-Nya (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi). Sementara ulama ketika menafsirkan firman Allah, "Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari
(nikmat)-Ku" (QS Al-Baqarah [2]: 152), menjelaskan bahwa ayat ini mengandung perintah untuk mengingat Tuhan tanpa melupakannya, patuh kepada-Nya tanpa menodainya dengan kedurhakaan. Syukur orang demikian lahir dari keikhlasan kepada-Nya, dan karena itu, ketika setan menyatakan bahwa, "Demi kemuliaan-Mu, Aku akan menyesatkan mereka
manusia)
semuanya" (QS Shad
[38]: 82), dilanjutkan dengan pernyataan pengecualian, yaitu, "kecuali
hamba-hamba-Mu yang mukhlash di antara mereka" (QS Shad [38]:83).
Dalam QS Al-A'raf (7): 17 Iblis
menyatakan, "Dan Engkau tidak akan menemukan
kebanyakan dari mereka {manusia) bersyukur." Kalimat "tidak
akan menemukan" di
sini serupa
maknanya dengan pengecualian di atas, sehingga itu berarti bahwa orangorang
yang bersyukur
adalah orang-orang yang mukhlish (tulus hatinya). Dengan
demikian syukur
mencakup tiga sisi:
1. Syukur dengan hati, yaitu kepuasan batin
atas anugerah.
2. Syukur dengan lidah, dengan mengakui
anugerah dan memuji pemberinya.
3. Syukur dengan perbuatan, dengan
memanfaatkan anugerah yang diperoleh sesuai dengan tujuan penganugerahannya.
Telah kita kemukakan secara umum
nikmat-nikmat-Nya yang mengharuskan adanya syukur. Dalam beberapa ayat lainnya
juga disebutkan nikmat-nikmat Allah yang harus disyukuri, antara lain:
1. Kehidupan dan kematian Bagaimana kamu
mengkufuri (tidak mensyukuri nikmat Allah, padahal tadinya kamu tiada, lalu
kamu dihidupkan, kemudian kamu dimakan, lalu dihidupkan kembali. (QS
Al Baqarah [2]: 28).
2. Hidayat Allah Hendaklah kamu
mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu
bersyukur (QS Al-Baqarah [2]: 185).
3. Pengampunan-Nya, antara lain dalam
firman-Nya. Kemudian setelah itu Kami maafkan kesalahanmu agar kamu bersyukur
(QS Al-Baqarah [2]: 52)
4. Pancaindera dan akal Dan Allah
mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun,
dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati, supaya kamu bersyukur (QS
An-Nahl [16]: 78).
5. Rezeki Dan diberinya kamu rezeki yang
baik-baik agar kamu bersyukur (QS Al- Anfal [8]: 26).
6. Sarana dan prasarana antara lain Dan
Dialah (Allah) yang menundukkan lautan (untukmu) agar kamu dapat memakan daging
(ikan) yang segar darinya, dan kamu mengeluarkan dan lautan itu perhiasan yang
kamu pakai, dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari
(keuntungan) dan karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur (QS An-Nahl [16]:14) .
7. Kemerdekaan Dan (ingatlah) ketika Musa
berkata kepada kaumnya, "Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atas kamu
ketika Dia mengangkat nabi-nabi diantaramu, dan dijadikannya kamu orang-orang
yang merdeka (bebas dari penindasan Fir'aun) (QS Al-Maidah [5]: 20) Masih
banyak lagi nikmat-nikmat lain yang secara eksplisit disebut oleh Al Quran.
Dalam surat Ar-Rahman (surat ke- 55), Al-Quran membicarakan aneka nikmat Allah
dalam kehidupan dunia ini dan kehidupan akhirat kelak. Hampir pada setiap dua
nikmat yang disebutkan.
Quran mengulangi satu pertanyaan dengan
redaksi yang sama yaitu: “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu ingkari?”
Pertanyaan tersebut terulang sebanyak tiga puluh satu kali. Sementara ulama
menganalisis jumlah itu dan mengelompokkannya untuk sampai pada suatu
kesimpulan:
Delapan pertanyaan berkaitan dengan
nikmat-nikmat Tuhan dalam kehidupan di dunia ini, antara lain nikmat pengajaran
Al-Quran, pengajaran berekspresi, langit, bumi, matahari, lautan,
tumbuh-tumbuhan, dan sebagainya.
Tujuh pertanyaan berkaitan dengan ancaman
siksa neraka di akhirat nanti. Perlu diingat bahwa ancaman adalah bagian dari
pemeliharaan dan pendidikan, serta merupakan salah satu nikmat Tuhan. Delapan
pertanyaan berkaitan dengan nikmat-nikmat Tuhan yang diperoleh dalam surga
pertama.
Delapan pertanyaan berkaitan dengan
nikmat-nikmat-Nya pada surga kedua. Dari hasil pengelompokan demikian, para
ulama menyusun semacam "rumus", yaitu siapa yang mampu mensyukuri
nikmat-nikmat Allah yang disebutkan dalam rangkaian delapan pertanyaan pertama
syukur seperti makna yang dikemukakan di atas maka ia akan selamat dari ketujuh
pintu neraka yang disebut dalam ancaman dalam tujuh pertanyaan berikutnya.
Sekaligus dia dapat memilih pintu-pintu mana saja dari kedelapan pintu surga, baik
surga pertama maupun surga kedua, baik Surga (kenikmatan duniawi) maupun
kenikmatan ukhrawi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar