(Q.S.
Al-Kahfi:10), Al-Insan (Al-Insan:1) , An-Nas (114):1). Berbagai rumusan tentang
manusia pun telah diberikan orang. Salah satu diantaranya, berdasarkan studi
isi Al-Quran dan Al-Hadist, berbunyi sebagai berikut: Al-Insan (manusia) adalah
makhluk ciptaan Allah yang memiliki potensi untuk beriman (kepada Allah),
dengan menggunakan akalnya mampu memahami dan mengamalkan wahyu serta mengamati
gejala-gejala alam, bertanggung jawab atas segala perbuatannya dan berakhlak
(N.A Rasyid , 1983:19).
2.1
KELEBIHAN
MANUSIA DARI MAHLUK LAINNYA
Manusia
dibandingkan makhluk lain mempunyai berbagai ciri utama, yaitu:
2.1.1
Makhluk yang paling unik ,
dijadikan dalam bentuk yang paling baik, ciptaan Allah yang paling sempurna.
Firman Allah:
“Sesungguhnya
Kami telah menjadikan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya,”
(QS-Tin:4). At
Keunikan manusia dapat terlihat pada
bentuk struktur tubuhnya, gejala-gejala yang ditimbulkan jiwanya, mekanisme
yang terjadi pada setiap organ tubuhnya, proses pertumbuhannya melalui tahapan
tertentu, dan sebagainya. Hubungan timbal balik antara manusia dengan
lingkungan hidupnya, ketergantungannya pada sesuatu, menunjukkan adanya
kekuasaan yang berada diluar manusia itu sendiri. Manusia sebagai makhluk
ciptaan Allah karena itu sepantasnya menyadari kelemahannya. Kelemahan manusia
berupa sifat yang melekat ada dirinya disebutkan Allah dalam Al-Quran,
diantaranya adalah:
a.
Melampaui batas (QS. Yunus : 12)
b.
Zalim dan mengingkari karunia
Allah (QS. Ibrahim : 34)
c.
Tergesa-gesa (QS. Al-Isra‟: 11)
d.
Suka membantah (QS. Al-Kahfi :
54)
e.
Berkeluh kesah dan kikir (QS.
Al-Ma‟arij:-21) 19
f.
Ingkar dan tidak berterima kasih
(QS. Al-Adiyat : ^)
Namun untuk kepentingan dirinya manusia
ia harus senantiasa berhubungan dengan penciptanya, dengan sesama manusia,
dengan dirinya sendiri, dan dengan alam sekitarnya.
2.1.2
Manusia memiliki potensi beriman
kepada Allah. Sebab sebelum ruh Allah dipertemukan dengan jasad di rahim
ibunya, ruh yang di alam ghaib itu ditanyai Allah, sebagaimana dalam Al-Quran:
“Apakah kalian mengakui Aku sebagai Tuh
ya kami akui Engkau adalah Tuhan kami”. (QS-„Araf.Al :172)
Dengan pengakuan tersebut sesungguhnya
manusia sejak awal telah maengakui Tuhan, telah ber-Tuhan, berke-Tuhanan.
Pengakuan dan penyaksian bahwa Allah adalah Tuhan tuh yang ditiupkan ke dalam
rahim wanita yang sedang mengandung manusia itu berarti bahwa manusia mengakui
adanya kekuasaan Tuhan, termasuk kekuasaan Tuhan menciptakan agama untuk
pedoman hidup manusia di dunia ini. Ini bermakna pula bahwa secara potensial
manusia percaya atau beriman kepada ajaran agama yang diciptakan Allah yang
Maha Kuasa.
2.1.3
Manusia diciptakan Allah untuk
mengabdi kepada-Nya dalam Al-Quran surat az-Zariyat:
“Tidaklah
Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk mengabdi kepada-Ku.” (BS.
Az-Zariyat: 56)
Mengabdi kepada Allah dapat dilakukan
manusia melalui dua jalur, jalur khusus dan jalur umum. Pengabdian melalui
jalur khusus diaksanakan dengan melakukan ibadah khusus yaitu segala upacara
pengabdia langsung kepada Allah yang syarat-syaratnya, dan cara-caranya telah
ditentukan oleh Allah sendiri sedang rinciannya dijelaskan oleh Rasul-Nya,
seperti ibadah shalat, zakat, shaum, dan haji. Pengabdian melalui jalur umum
dapat dilakukan dengan melakukan perbuatan yang disebut amal saleh yaitu
segala perbuatan positif yang bermanfaat bagi diri sendiri dan masyarakat,
dilandasi dengan niat ikhlas dan bertujuan untuk mencari keridaan Allah.
2.1.4 Manusia dilengkapi dengan akal perasaan dan
kemauan atau kehendak.
Dengan akal dan
kehendaknya manusia akana tunduk dan patuh kepada Allah, menjadi muslim. Tetapi
dengan akal dan kehendaknya juga manusia dapat tidak percaya, tidak tunduk dan
tidak patuh kepada kehendak Allah, bahkan mengingkari-Nya, menajdi kafir.
Karena itu di dalam Al-Quran ditegaskan oleh Allah:
“Dan
katakana bahwa kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu. Barangsiapa yang mau
beriman hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang tidak ingin beriman, biarlah
ia kafir.” . (QSAl-Kahfi: 29)
Dalam
surat Al-Insan juga dijelaskan:
“Sesungguhnya
kami telah menunjukinya jalan yang lurus (kepada manusia), ada manusia
yang syukur, ada pula manusia yang kafir”. (QS-Insan:. 3) Al
Allah telah menunjukkan jalan kepada
manusa dan manusia dapat menjalani jalan itu dan dapat pula tidak mengikutinya.
Memang dengan kemampuanya atau kehendaknya yang bebas manusia dapat memilih
jalan yang akan ditempuhnya. Namun dengan pilihannya itu manusia kelak akan
dimintai pertanggungjawabannya di akhirat, yaitu pada hari perhitungan mengenai
segala amal perbuatan manusia ketika masih di dunia. Secara individual manusia
bertanggung jawab atas segala perbuatannya. Hal ini dinyatakan oleh Allah dalam
Al-Quran:
“Setiap orang terikat (bertanggung jawab
atas apa yg dilakuannya.”
(QS-. St
Thur:
21)
2.1.5
Manusia memiliki akhlaq.
Berakhlaq adalah ciri utama mausia
dibandngkan makhluk lain. Artinya manusia adalah makhluk yang diberikan Allah
kemampuan untuk membedakan yang baik dengan yang buruk. Dalam Islam kedudukan
akhlak sangat penting, ia menjadi komponen ketiga dalam Islam. Kedudukan ini
dapat dilihat di dalam sunnah Nabi
yang mengatakan bahwa beliau diutus
hanyalah untuk menyempurnakan akhlak manusia yang mulia.
Suri tauladan Nabi yang dlakukan semasa
hidupnya seharusnya menjadi contoh bagi umat manusia terutama manusia yang
beriman. Selain dari keteladanan Rasulullah, banyak butir-butir tuntunan menuju
akhlak mulia itu terdapat di dalam Al-Quran dan AlHadits. Butir0butir ajaran
ini berlaku abadi, universal, seanjang masa dan dimana saja.
2.2
FUNGSI DAN TANGGUNG JAWAB MANUSIA DALAM ISLAM
Allah SWT dengan kehendak
kebijaksanaanNya telah mencipta makhluk- makhluk yang di tempatkan di alam
penciptaanNya. Manusia di antara makhluk Allah dan menjadi hamba Allah SWT.
Sebagai hamba Allah tanggungjawab manusia adalah amat luas di dalam
kehidupannya, meliputi semua keadaan dan tugas yang ditentukan kepadanya.
Tanggungjawab
manusia secara umum digambarkan oleh Rasulullah SAW di dalam
hadis
berikut. Dari Ibnu Umar RA katanya; “Saya mendengarSAWbersabda Rasul yang
bermaksud:
“Semua
orang dari engkaudan sekaliandipertanggungjawabkanadalah terhadap apa yang
digembalainya. Seorang laki-laki adalah pengembala dalam
keluarganya dan akan ditanya tentang
pengembalaannya. Seorang isteri adalah pengembala di rumah suaminya dan akan
ditanya tentang pengembalaannya.Seorang khadam juga pengembala dalam harta
tuannya dan akan ditanya tentang pengembalaannya. Maka semua orang dari kamu sekalian
adalah pengembala dan akan ditanya tentang pengembalaannya.”
(Muttafaq „alaih)
Allah menciptakan manusia ada
tujuan-tujuannya yang tertentu. Manusia dicipta untuk dikembalikan semula
kepada Allah dan setiap manusia akan ditanya atas setiap usaha dan amal yang
dilakukan selama ia hidup di dunia. Apabila pengakuan terhadap kenyataan dan
hakikat wujudnya hari pembalasan telah dibuat maka tugas yang diwajibkan ke
atas dirinya perlu dilaksanakan.
2.3
HAKIKAT MANUSIA DALAM PANDANGAN ISLAM
Dari sudut pandang psikologi, pandangan
tentang hakikat manusia mengarah pada sifat-sifat manusia (human nature), yaitu
sifat-sifat khas (karakteristik) segenap umat manusia (Chaplin, 1997: 231).
Hakekat manusia yang dimaksud dalam kajian ini ialah sesuatu yang esensial dan
merupakan ciri khas manusia sebagai makhluk yang dapat menjadikan manusia
berbeda dengan makhluk-makhluk lainnya.
Para pemikir Islam seperti Al-Farabi,
Al-Ghazali, dan Ibnu Rusyd (Muhaimin & Mujib, 1993) menyatakan bahwa
manusia merupakan rangkaian utuh antara dua unsur, yaitu unsur yang bersifat
materi (jasmani) dan unsur yang bersifat immateri (rohani). Pernyataan bahwa
manusia merupakan rangkaian utuh antara dua unsur mengan-dung makna bahwa unsur-unsur
tersebut merupakan satu totalitas yang tidak bisa dipisah-pisahkan, atau dengan
kata lain tidak bisa dikatakan sebagai manusia jika salah satu diantara dua
unsur tersebut tidak ada. Namun pembahasan ini hanya difokuskan pada unsur
immateri (rohani) saja. Istilah yang sering disebut dalam Alquran untuk
menggambarkan unsur manu-sia yang bersifat rohani adalah ruh dan nafs.
2.3.1
Ruh
Dalam
surah al-Hijr ayat 28-29 Allah berfirman :
رإٔلبقكثسخكئـهًهنيَاقنبخاشش
ثٍيلبص هص ٍيئًدٌُٕسي.
|
اربفّـزـيٕس
|
||||
ذخفَٔ
|
ّي ف
|
ٍي
|
يدٔس
|
ّنإعقف
|
ٍيذجبس
|
Artinya: Dan
(ingatlah) ketika Tuhanmu
berfirman kepada para
malaikat:
“Sesungguhnya Aku akan
menciptakan seo
(yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi
bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan telah meniupkan
kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud”
Sebagaimana yang digambarkan dalam ayat
di atas, ruh adalah unsur terakhir yang dimasukkan ke dalam tubuh manusia,
dengan demikian dapat diambil pemaha-man bahwa ruh adalah unsur yang sangat
penting karena merupakan unsur terakhir yang menyempurnakan proses penciptaan
manusia. Ruh juga dikatakan sebagai bagian unsur yang mulia, hal ini tersirat
dari perintah Allah
kepada
para malaikat (termasuk pula iblis) untuk sujud kepada manusia sebagai tanda
penghormatan setelah dimasuk-kannya unsur ruh.
Apakah
ruh itu?. Pertanyaan
ini pernah diajukan
kepada Rasulullah saw
sebagaimana yang
tergambar dalam surah al-Isra‟ ayat 85 seba كَٕهئس ئٍع
حٔشنا.مقحٔشناٍيشياي ثسبئىزـيـرٔاٍيىهعنالالايهق
Artinya:
Dan mereka bertanya kepadamu tentang termasuk urusan Tuhan-ku,
dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan
sedikit”.
Ayat
di atas menyiratkan bahwa pengetahuan manusia tentang ruh sangat terbatas
sehingga tidak mungkin dapat mengetahui hakikat ruh secara detail. Sekalipun
ayat di atas menyatakan bahwa pengetahuan manusia tidak akan mencapai pemahaman
yang rinci tentang hakikat ruh, tetapi tidak satupun terdapat ayat Alquran yang
menghalangi atau melarang para ulama atau cendikiawan muslim untuk berusaha
memahami hakikatnya (Syaltout, 1972). Pintu untuk menyelidiki tentang hakikat
ruh masih terbuka dengan selebar-lebarnya (Surin, 1978).
Mempelajari
proses penciptaan manusia sebagaimana yang digambarkan da-lam Alquran, paling
tidak akan memberikan sedikit pemahaman tentang sifat-sifat ruh
sebagaimana yang
|
dinyatakan oleh
Ansari
|
(1992: 3)
sebagai
|
berikut:
|
Thus obvious that a direct and detail
understanding of the nature of the ruh is not
|
|||
available. However,
|
if
we look at other relevant
|
sections
|
of the
Qu
|
describe
the process of creation, we might be able to obtain at least some understanding
of its nature.
Dalam
memahami sifat-sifat ruh, ada beberapa ulama dan para sarjana muslim yang
mencoba memahaminya dengan berpijak pada disiplin ilmunya masing-masing, mereka
di antaranya sebagai berikut:
Al-Qayyim
(1991), dan Al-Razy (Ash-Shiddieqy, 1969 dan Hadi, 1981), ber-pendapat bahwa
ruh adalah suatu jisim (benda) yang sifatnya sangat halus dan tidak dapat
diraba. Ruh merupakan jisim nurani yang tinggi dan ringan, hidup dan selalu
bergerak menembus dan menjalar ke dalam setiap anggota tubuh bagaikan
menjalarnya air dalam bunga mawar. Jisim tersebut berjalan dan memberi
bekas-bekas seperti gerak, merasa, dan berkehendak. Jika anggota tubuh tersebut
sakit
dan rusak, serta
tidak mampu lagi menerima bekas-bekas itu, maka ruh akan bercerai dengan tubuh
dan pergi ke alam arwah.
Al-Ghazali
(1989) membagi ruh dalam dua pengertian. Pertama, ruh yang bersifat jasmani
yang merupakan bagian dari tubuh manusia, yaitu zat yang amat halus yang
bersumber dari relung hati (jantung), yang menjadi pusat semua urat (pembuluh
darah), yang mampu menjadikan manusia hidup dan bergerak, serta merasakan
ber-bagai rasa. Ruh ini dapat diibaratkan sebuah lampu yang mampu menerangi
setiap sudut ruangan (organ tubuh). Ruh sering pula diistilahkan dengan nafs
(nyawa). Kedua, ruh yang bersifat rohani yang merupakan bagian dari rohani
manusia yang sifatnya halus dan gaib. Ruh ini memberikan kemampuan kepada
manusia untuk mengenal diri-nya sendiri, mengenal Tuhannya, dan memperoleh
serta menguasai ilmu yang bermacam-macam. Ruh pula yang menyebabkan manusia
berperikemanusiaan dan berakhlak sehingga memjadikannya berbeda dengan
binatang.
Syaltout (1972)
berpendapat bahwa ruh adalah suatu kekuatan yang dapat menyebabkan adanya
kehidupan pada makhluk seperti tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia. Ruh pada
diri manusia disamping dapat memberikan kehidupan juga mem-berikan kemampuan
kepada manusia untuk merasa dan berpikir. Hakekat ruh sulit ditangkap tetapi
keberadaannya dapat dirasakan.
Ansari (1992)
menyatakan, salah satu kapasitas khusus yang hanya dimiliki oleh manusia --
tidak dimiliki oleh makhluk lain -- disebabkan karena adanya ruh adalah
kemampuannya untuk memperoleh pengetahuan yang luas. Pernyataan Ansari tersebut
didasarkan pada Alquran surah al-Baqarah ayat 31 sebagai berikut:
ىهعٔوداءبًسلابٓهك...
Artinya: “Dan
Dia (Allah) mengajarkan Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya”
Adam diajarkan
oleh Allah swt berbagai nama-nama benda setelah unsur ruh ditiupkan kedalam
tubuhnya, hal ini menyiratkan bahwa keberadaan unsur ruh menyebabkan manusia
mempunyai kemampuan untuk menerima dan memperoleh pengetahuan yang luas.
Pulungan (1984) menyatakan bahwa ruh
adalah sumber kemanusiaan. Manusia merasa senang, cinta, benci, marah, bahagia,
gembira, bermoral, berakhlak, mem-punyai rasa malu dan beradab, semuanya adalah
akibat dari adanya ruh yang ditiupkan Allah pada tubuh manusia.
Menurut Arifin (1994), keberadaan ruh
pada diri manusia dapat menyebabkan tumbuh dan berkembangnya daging, tulang,
darah, kulit, dan bulu, ruh pula yang menyebabkan tubuh manusia dapat bergerak,
berketurunan, dan berkembangbiak. Di sampimg itu ruh pula yang membuat manusia
dapat melihat, mendengar, merasa, berpikir, berkesadaran, dan berpengertian.
Di samping ruh, istilah lain yang
dijumpai dalam Alquran untuk menamakan unsur rohani manusia ialah nafs. Ruh dan
nafs adalah dua buah istilah yang pada hakikatnya sama.
2.3.2
Nafs
Ruh dan nafs hakikatnya sama, diberi
istilah yang berbeda adalah untuk membedakan sifat dan fungsinya masing-masing.
Menurut Amjad (1992), istilah ruh hanya digunakan untuk menunjukkan unsur
rohani manusia pada tingkatan yang lebih tinggi dari nafs, ruh dipandang
sebagai dimensi khas insani yang merupakan sarana gaib untuk menerima petunjuk
dan bimbingan Tuhan, serta mempunyai kesadaran tentang adanya Tuhan, sedangkan
istilah nafs digunakan untuk menggambarkan unsur rohani manusia yang mengandung
kualitas-kualitas insaniyah atau kemanusiaan.
Dalam
Alquran ditemukan tiga buah istilah yang dikaitkan dengan kata nafs, yaitu
al-nafs
al-mutma‟innah seperti yang-Fajrayat 27,terdapatal-nafs d
al-lawwamah
seperti yang terdapat dalam surah al-Qiyaamah ayat 2, dan al-nafs
laammaratun
bi al-su‟ seperti yang
terdapat dalam
buah
istilah yang dikaitkan dengan kata nafs tersebut menyiratkan adanya tiga
buah
pembagian kualitas unsur rohani yang terdapat pada manusia.
Al-nafs
al-mutma‟innah secarartijiwa
yangetimologitenang,dinamakan bera
jiwa
yang tenang karena dimensi jiwa ini selalu berusaha untuk meninggalkan
sifat-sifat
tercela dan menumbuhkan sifat-sifat yang baik sehingga memperoleh
ketenangan.
Dimensi jiwa ini secara umum dinamakan qalb atau hati (Ahmad,
1992;
Mujib, 1999).
Al-nafs
al-lawwamah secara literlik berarti jiwa yang amat menyesali dirinya sendiri,
maksudnya bila ia telah berbuat kejahatan maka ia menyesal telah melakukan
perbuatan tersebut, dan bila ia berbuat kebaikan maka ia juga menyesal kenapa
tidak berbuat lebih banyak (Departemen Agama RI, 1978; Surin,
1978).
Dimensi jiwa ini
dinamakan oleh
(Ahmad, 1992;
Mujib, 1999).Al-nafs laammaratun bi al-su‟ secara harfi jiwa yang memerintah
kepada kejahatan, yaitu aspek jiwa yang menggerakkan
manusia
untuk berbuat jahat dan selalu mengejar kenikmatan. Menurut para kaum sufi,
dimensi jiwa ini dinamakan sebagai hawa atau nafsu (Sudewo, 1968; Ahmad, 1992;
dan Mujib, 1999). Ahmad (1992) menyebutkan, meskipun unsur rohani manusia yang
diistilah-kan dengan nafs disebut dengan tiga buah istilah yang berbeda-berbeda
sehingga seolah-olah ketiganya berdiri sendiri-sendiri, namun hakikat ketiganya
merupakan satu kesatuan. Ketiga buah istilah tersebut menggambarkan bahwa
secara garis besar terdapat tiga buah fungsi dan sifat yang dimainkan oleh unsur
rohani manusia.
Senada
dengan pendapat Ahmad yang menyimpulkan bahwa unsur rohani manusia hakikatnya
satu, Arifin menyatakan:
Dinamai
ruh (jiwa), atau nafs (nyawa) dalam fungsinya menghidupkan, me-numbuhkan dan
memperkembangbiakkan. Dinamai akal dalam fungsinya memikir (menyelidiki),
mencari sebab akibat, mengingat dan menghayal. Dinamai
hati atau kalbu
dalam fungsinya merasa berkeinginan, berkehendak, berkemauan. (Arifin, 1994:
37)
Pendapat Ahmad
dan Arifin yang menyimpulkan bahwa unsur rohani manusia hakikatnya satu,
diperkuat pula oleh pe concluded that ruh is seen as a unity in all experience
which is manifested in different ways in the humanDaripendapatself”beberapa
(Amj ulama dan sarjana muslim di atas, dapat diambil simpulan bahwa meskipun
Alquran
menggunakan istilah yang berbeda-beda dalam menggambarkan unsur rohani manusia,
yaitu ruh dan nafs, namun unsur-unsur rohani tersebut hakikatnya satu, disebut
dengan istilah yang berbeda adalah untuk membe-dakan sifat-sifat rohani
manusia. Keberadaan unsur rohani tersebut menyebabkan ma-nusia dapat hidup dan
bergerak, berpikir, merasa dan menyadari keberadaan dirinya, bahkan menyadari
akan keberadaan sesuatu yang menciptakan dirinya, yaitu Tuhan.
2.3.3
Qalb
Menurut Ahmad
(1992) dan Mujib (1999), qalb adalah istilah dari al-nafs al-mutma‟innah yang
digunakanuntukmenggambarkandi salahdalamsatu Alq unsur potensi rohani yang
dimiliki oleh manusia. Istilah qalb dapat dijumpai
antara lain di dalam Alquran surah
al-Hajj ayat 46 sebagai berikut:
ىهفاأشيس يٗ فض سلإٌكـفىٓنةٕهقٌٕهقعيبٓثٔاٌارإٌعًس
يبٓـثبٓـَبفلا دًٗع سبص ثلا ٍكنٔ ًٗعر ةٕهقنا يزنا ٗ ف سٔذص نا
Artinya:
“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai
hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan
itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta,
tetapi yang buta ialah hati yang ada di dalam dada."
Di
samping Alquran surah al-Hajj ayat 46 di atas dapat pula dijumpai pada Hadis
Rasulullah saw sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari (1979: 19)
sebagai berikut:
اٌٗ فذسجناخغضياراذذهص خهص ذسجناّهكارأدذس
فذس فذسجناّهكلائْ تهقنا
Artinya:
“Sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging, jika ia
baik maka baik pula semua tubuhnya, dan jika ia rusak maka rusak pula semua
tubuhnya, ingatlah! itulah yang dinamakan hati/qalb.”
Berdasarkan
keterangan Alquran surah al-Hajj ayat 46 dan Hadis Rasu-lullah saw tersebut di
atas, dapat diambil pemahaman bahwa qalb mempunyai arti fisik dan arti
metafisik. Al-Ghazali (1984) dan Noersyam (1984) menyatakan, pengertian qalb
menurut arti fisik adalah segumpal daging berbentuk lonjong yang terletak di
dalam rongga dada sebelah kiri yang terus menerus berdetak selama manusia
masih
hidup. Qalb dalam pengertian fisik ini berfungsi untuk mengatur jalannya
peredaran darah ke dalam seluruh tubuh. Qalb seperti ini terdapat pada manusia
dan juga pada binatang. Adapun pengertian qalb secara metafisik, menurut
Bastaman (1997), menunjuk kepada hati nurani atau suara hati. Memahami fungsi
qalb dalam arti fisik sebagaimana yang digambarkan oleh Al-Ghazali dan Noersyam
di atas, dapat diambil simpulan bahwa yang dimaksud qalb tersebut adalah organ
tubuh yang disebut jantung (heart) dan bukan menunjuk kepada organ tubuh yang
disebut hati (lever) .Haq (1992) menyatakan bahwa qalb dalam arti fisik
(jantung) merupakan titik tempat interaksi antara tubuh dengan qalb dalam arti
metafisik (hati nurani). Interaksi tersebut secara psikologis dapat dirasakan,
ketika kondisi psikologis seseorang dalam keadaan normal maka qalb (jantung)
berdetak secara teratur, namun ketika kondisi psikologis seseorang sangat
senang atau terlalu cemas maka detak qalb (jantung) menjadi cepat.
Pembahasan
tentang qalb dalam tulisan selanjutnya lebih mengarah kepada istilah qalb dalam
pengertian metafisik, yaitu hati nurani atau suara hati. Kata Qalb ditransfer
kedalam bahasa Indonesia menjadi kalbu yang berarti hati nurani. Kata qalb
secara harfiah berarti berubah-rubah atau berbolak-balik, disebut demikian
karena ia berpotensi untuk berbolak-balik, umpamanya dari perasaan senang
menjadi susah, cinta menjadi benci, dari menerima menjadi menolak, dan
sebagainya (Shihab, 1997). Qalb mempunyai nama-nama lain sesuai dengan aktivitasnya
(Umary, 1989), ia dinamakan pula sebagai dhomir karena sifatnya
yang
tersembunyi, dinama-kan fu‟ad karena merupakan t manusia, dan dinamakan siir
karena bertempat pada tempat yang rahasia dan
sebagai muara bagi rahasia manusia.
Hati
nurani tidak akan mendustakan apa yang dilihatnya, ia selalu cenderung pada
kebenaran. Pernyataan ini didasarkan atas firman Allah swt dalam surah an-Najm
ayat 11 sebagai berikut:
بيةزكداؤفنابيٖس
Artinya: “Hati nurani tidak
mendustakan apa yang dilihatnya”
Menurut
Zamakhsyariy (Mujib, 1999), hati nurani diciptakan oleh Allah sesuai dengan
fitrah manusia yaitu baik dan suci, dan berkecenderungan menerima kebenaran
dari Tuhannya. Jika hati nurani berfungsi secara normal, maka kehidupan manusia
menjadi sesuai dengan fitrah aslinya, yaitu baik dan suci, dan
dengan demikian manu-sia akan beriman kepada Allah swt.
Iman
adalah masalah gaib yang tidak dapat dijangkau oleh dunia nyata atau pengalaman
empiris semata, iman hanya dapat dijangkau dengan dunia rasa. Dunia rasa hanya
dapat dijangkau melalui hati nurani yang terdapat dalam dada manusia, bukan
dengan rasio atau otak yang terdapat di kepala manusia karena rasio atau otak
manusia tidak mampu menjangkau hal-hal yang gaib, keterangan ini dapat dilihat
di dalam Alquran surah al-Hujurat ayat 14:
ذنبقةشعلابُيآ.مقىنإُيؤرٍكنٕٔقإنبًُهسابًـنٔمخذيٌبًيلاي
فىكثٕهق ٌإٔ إعيطراللهّنٕسسٔ لاىكزـهيٍي ىكنبًع بئيش ٌااللهسٕفغ ىيدس
Artinya: Orang-orang
Arab Badui itu berkata: Katakanlah (kepada mereka): “Kamu belu telah tunduk‟,
karena iman itu belum masuk kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tiada akan
mengurangi sedikitpun (pahala) amalanmu”. Sesungguhnya Allah Maha Pen
Hati
nurani merupakan unsur rohani manusia yang sangat penting dan dipandang sebagai
inti kemanusiaan yang dapat menjadikan manusia berbeda dengan binatang. Jika
manusia tidak dapat menggunakan hati nuraninya maka dia tidak ada bedanya
dengan binatang, bahkan bisa lebih sesat dari binatang sebagaimana yang
dinyatakan dalam Alquran surah al-A‟raf ayat 179.
...
ىٓنةٕهقلإٌٓقف يبٓثىٓنٍٔيعالأٌشص جج يبٓثىٓنٌٔارالإٌعًس
يبٓث كئنٔا وبعَلابك مث ىْ مضا كئنٔا ىْ ٌٕهفبغنا
Artinya:
... mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannnya untuk memahami
(ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya
untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka
mempunyai
telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah).
Mereka itu bagaikan binatang, bahkan mereka lebih sesat lagi.
Mereka
itulah orang-orang yang lalai. Hati nurani dapat dikategorikan sebagai intuisi
atau pandangan yang dalam yang mampu membawa manusia kepada kebenaran, dan
sebagai sarana untuk mengenal kebenaran ketika penginderaan manusia tidak mampu
memainkan perannya (Iqbal, 1981). Senada dengan Iqbal, Al-Ghazali (1984),
Noersyam (1984), dan Raharjo (1987) menyatakan bahwa hati nurani manusia dapat
menangkap rasa, mengetahui dan mengenal sesuatu, serta memperoleh ilmu
mukasyafah, yaitu ilmu yang diperoleh melalui intuisi atau ilham, oleh karena
itu, ketika memutuskan sesuatu (membentuk pendapat), hati nurani langsung
menetapkannya tanpa proses panjang seolah-olah keputusan itu dilhamkan
kepadanya.
Memahami
fungsi qalb seperti yang diuraikan di atas, istilah qalb dalam pengertian
metafisik (hati nurani) nampaknya mirip dengan istilah conscience yang
digunakan dalam istilah psikologi, yaitu sistem nilai moral seseorang, atau
kesadaran akan benar dan salah dalam tingkah laku (Chaplin, 1997), atau dalam
istilah Psikoanalisa dinamakan superego, yaitu kumpulan moral nilai etis yang
diintroyek-sikan, yang telah diperoleh seseorang dari kedua orangtuanya. Tetapi
berbeda dengan conscience dan superego, qalb di samping mengandung sistem nilai
moral seseorang juga mengandung sistem nilai spiritual sehingga seseorang mampu
merasakan keberadaan Tuhan, beriman dan dapat menerima kebenaran dari-Nya.
2.3.4
„Aql
Secara etimologi - ribath,„aqlmenahan/alberarti-imsak,mela -
rang/almengikat/-
nahy,
dan mencegah/man‟u (Rasyidi
& Cawidu,-na
|
1
|
bahasa ini, Mujib (1999) berpendapat
bahwa yang disebut orang yang berakal (al-
|
„aqil) adalah
orang yang mampu-doronganmenahan nafsunya, jika nafsunya terikat maka jiwa
rasionalitasnya mampu bereksistensi
sehingga manu-sia
dapat menghindari perbuatan
buruk atau jahat.
„Aql, ditransfer kedalam
bahasa Indones
yaitu
pikiran. Akal adalah subtansi yang bisa berpikir, dengan kata lain, ber-pikir
adalah cara kerja dari akal, sehingga dapat dikatakan bahwa akal identik dengan
pikiran, atau ratio dalam bahasa Latin, atau budi dalam bahasa Sansekerta, atau
reason dalam bahasa Inggris. Mengutip pendapat al-Husain, Mujib (1999)
menyatakan bahwa akal mem-punyai dua makna, yaitu: (1) akal jasmani, yaitu
salah satu organ tubuh yang terletak di kepala. Akal ini yang biasanya disebut
dengan otak (al-dimagh), (2) akal ruhani, yaitu suatu kemampuan jiwa yang
dipersiapkan dan diberi kemampuan untuk mem-peroleh pengetahuan (al-ma‟rifah)
-danmudrikat)kognisi. (al
Al-Ghazali
(sebagaimana yang dikutip Basil, tanpa tahun) menyebutkan beberapa aktivitas
akal, yaitu al-nazhar (melihat), al-tadabbur (memperhatikan), al-ta‟ammul
(merenungkan),-i‟tibar(menginterpretasikan),al-tafkir(memikirkan) dan
al-tadakkur (mengingat). Apa yang dinyatakan oleh al-Ghazali mengenai aktivitas
akal tersebut, dalam psikologi dikenal dengan istilah cognition (kognisi),
yaitu sebuah konsep umum yang mencakup semua pengenalan, termasuk di dalamnya
ialah menga-mati, melihat, memperhatikan, menyangka, membayangkan,
memperkirakan, mem-pertimbangkan, berpikir, menduga dan menilai (Chaplin,
1997).
Jika
kerja qalb (hati nurani) dalam memutuskan sesuatu tanpa proses panjang
seolah-olah keputusan itu dilhamkan kepadanya, dengan memperhatikan beberapa
aktivitas akal di atas, maka dapat dipahami bahwa kerja akal dalam memutuskan
sesuatu melalui jalan yang berliku-liku lewat proses yang disebut berfikir.
Dalam Islam, akal diakui sebagai salah satu sarana yang sangat penting bagi
manusia, bahkan diakui merupakan sumber hukum Islam yang ketiga setelah Alquran
dan Hadis yang diistilahkan dengan ijtihad.
Meskipun
akal mempunyai kedudukan dan posisi yang sangat penting, namun akal bukan
merupakan faktor utama yang dapat menjadikan manusia menjadi makhluk yang
paling baik dan mulia, sebab akal tidak dapat menentukan dan
menetapkan
kebenaran tanpa adanya bimbingan syari‟at (hukum yang bersumber dari hati
(qalb). Akal mampu untuk mengetahui bahwa Tuhan itu
ada, namun akal tidak mampu mengantar
manusia untuk merasa dekat dengan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar