Saudaraku
: pernahkah kamu menyendiri dan menghisab apa yang telah kamu katakana
dan kamu perbuat ? pernahkan kamu satu hari menghitung keburukannmu
sebagaimana kamu menghitung kebaikanmu ? bahkan apakah kamu pernah
mengkhayal ketaatanmu yang kamu banggakan ? bila kamu mendapatkan bahwa
kebanyakan dari amalanmu itu dipenuhi dengan riya' lalu bagaimana
mungkin kamu dapat bersabar pada keadaan seperti ini, dan perjalananmu
dipenuhi dengan ketidak senangan dan marabahaya ? dan bagaimana kamu
menghadap Allah sedangkan kamu dipenuhi dengan beban dan dosa-dosa ?
Umar
bin Al Khattab berkata : hisablah dirimu sebelum dihisab, dan
timbanglah sebelum ia ditimbang, bila itu lebih mudah bagi kalian dihari
hisab kelak untuk menghisab dirimu dihari ini, dan berhiaslah kalian
untuk pertemuan akbar, pada saat amalan dipamerkan dan tidak sedikitpun
yang dapat tersembunyii dari kalian.
Ibadah dan takut
Allah telah memuji orang yang taat kepadanya : (Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka,
Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka,
Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apa pun),
Dan
orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati
yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali
kepada Tuhan mereka,
mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya. Al Mu'minuun 57-61)
Dari
Aisyah RA berkata : saya bertanya pada Rasulullah Saw tentang ayat ini,
apakah mereka itu adalah peminum khamr, pezina dan pencuri ? Beliau
menjawab : tidak wahai putri as shiddiq, tetapi mereka melaksanakan
puasa dan shalat, bersedekah, dan mereka takut tidak diterima amalannya,
dan mereka berlomba-lomba dalam kebajikan) HR At Tirmidzi, Ibnu Majah
dan Ahmad).
Saudaraku
: beginilah keadaan para salaf kita, mereka mendekatkan diri pada Allah
dengan segala ketaatan, dan berlomba-lomba dengan beragam perbuatan
yang dapat mendekatkan dirinya pada Allah, dan mereka menghisab dirinya
atas keteledoran, kemudian mereka merasa takut bila amalan mereka tidak
diterima Allah.
As
shiddiq RA : dia banyak menangis, dan dia berkata : menangislah kalian,
bila tidak dapat menangis maka berusahalah menangis, dan dia berkata :
demi Allah saya lebih senang menjadi pohon yang dapat dimakan dan dapat
dijadikan tongkat.
Umar
bin Al Khattab RA membaca surat At Thur dan ketika sampai pada firman
Allah : (At Thur 7) dia menangis dan tangisnya semakin menjadi hingga
dia jatuh sakit dan dia selalu membiasakan itu. Suatu saat dia melewati
ayat pada wirid malamnya dan membuatnya takut, dia tinggal dirumah
beberapa hari dan orang-orang menjenguknya, mereka mengiranya sakit, dan
pada wajahnya terdapat dua garis hitam disebabkan menangis.
Ibnu
Abbas berkata padanya : Denganmu Allah membukakan beberapa Negara dan
kamu tetap beramal, Umar menjawab : saya ingin saya selamat dan tidak
mendapatkan pahala dan tidak ada dosa.
Utsman
bin Affan RA bila dia berdiri diatas kuburan dia menangis hingga
jenggotnya basah, dan dia berkata : andaikata saya berada antara surga
dan neraka, saya tidak tahu kemana saya diperintahkan, maka saya akan
memilih menjadi debu sebelum saya mengetahui kemana saya akan kembali.
Ali
bin Abi Thalib RA : dia banyak menagis dan takut, dan banyak menghisab
dirinya. Dan ketakutannya yang paling besar adalah dari dua hal :
panjang cita-cita dan mengikuti hawa nafsu. Dia berkata : adapun panjang
cita-cita akan melupakan pada akhirat, dan adapun mengikuti hawa nafsu
maka akan menutup dari kebenaran.
Peringatan Allah didalam hati.
Dari
Nuwas bin Sam'an RA dari Nabi Saw bersabda : Allah menggambarkan jalan
yang lurus, dikedua belah jalan lurus itu ada dua pagar, didalamnya
terdapat pintu-pintu yang terbuka, dan diatas pintu-pintu itu ada
garis-garis tipis, dan diatas jalan ada seorang yang memanggil seraya
berkata : wahai manusia, berjalanlah diatas jalan semuanya dan jangan
melenceng, dan seorang memanggil diatas jalan, bila salah satu kalian
ingin membuka satu pintu dari pintu-pintu itu, dia berkata : celakalah
kamu ! maka bila kamu membukanya kamu akan memasukinya. Jalan itu adalah
islam. Garis-garis itu adalah hududullah. Dan pintu-pintu yang terbuka
adalah maharimullah. Dan orang yang memanggil dari atas adalah :
peringatan Allah yang ada dihati setiap muslim. (HR Ahmad dan Hakim dan
dishahihkan oleh al Al Bani.
Marilah
kita mengikuti peringatan Allah yang ada dihatimu ? marilah kita
menjaga hudullah dan maharimullah ? mari kita memerangi musuh Allah dan
musuhmu, Allah berfirman : "Sesungguhnya setan itu adalah musuh
bagimu, maka anggaplah ia musuh (mu), karena sesungguhnya setan-setan
itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka
yang menyala-nyala.(Fathir 6)
Dari
Khalid bin Mi'dan RA berkata : tidaklah seorang hambapun kecuali dia
mempunyai dua mata diwajahnya dengan keduanya melihat perkara dunia, dan
dua mata dihatinya dengan keduanya melihat perkara akhirat, bila dia
membuka kedua matanya yang ada dihatinya, maka Allah akan memperlihatkan
keghaiban dengan keduanya seperti dijanjikan Allah, bila dia
menginginkan selain itu, maka dia akan dibiarkan seperti apa adanya lalu
dia membaca : surah Muhammad ayat 24 (Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur'an ataukah hati mereka terkunci?.
Beberapa pendapat tentang muhasabah diri :
1. Umar
bin al Khattab RA menulis surat untuk sebagian pegawainya :
muhasabahlah dirimu dalam keadaan senang sebelum dimuhasabah pada saat
susah, sesungguhnya orang yang menghisab dirinya disaat senang sebelum
datang kesusahan (kiamat), maka urusannya akan menjadi ridha, dan barang
siapa yang menuhankan hidupunya, dan disibukkan oleh hawa nafsunya,
maka urusannya akan berakhir dengan penyesalan dan kerugian.
2. Al
Hasan berkata : orang mukmin jangan melupakan untuk bermuhasabah diri :
apa yang hendak kamu kerjakan ? apa yang hendak kamu makan ? dan apa
yang hendak kamu minum ? karena orang fajir selalu melangkah tanpa
bermuhasabah diri.
3. Qotadah berpendapat tentang firman Allah (adalah keadaannya itu melewati batas. (Al Kahfi 28) dia menyia-nyiakan dirinya, walaupun demikian dia merasa menjaga hartanya, dan menyia-nyiakan agamanya.
4. Al
Hasan berkata : sesungguhnya seorang hamba akan tetap dalam kebaikan
selama dia memperingati dirinya, dan muhasabah adalah semangatnya.
5. Maimun
bin Mahran berkata : tidaklah seorang hamba menjadi bertakwa hingga
dirinya sangat memperhatikan muhasabahnya lebih dari perhatian seorang
teman terhadap temannya, oleh karena itu dikatakan : nafsu bagaikan
teman yang berhianat, bila tidak dihisabnya maka dia akan pergi dengan
semua yang kamu miliki.
6. Dari
Wahab, Imam Ahmad menyebutkan : disebutkan dalam hikmah Keluarga Daud :
haknya orang yang berakal adalah tidak melupakan empat perkara : waktu
untuk bermunajat pada Tuhannya, waktu untuk menghisab dirinya, waktu
untuk bertemu dengan teman-temannya yang memberitahu keburukannya dan
untuk berbuat jujur terhadap dirinya, dan waktu untuk dirinya dan
kelezatannya apa yang halal dan hendaknya dilakukan, karena waktu ini
merupakan penolong atas mengekang hati.
7. Al
Ahnaf bin Qois mendatangi sebuah lampu, lalu meletakkan jarinya
didalamnya kemudian berkata : rasakan wahai Hanif, apa yang kamu bawa
kamu berbuat seperti ini ? apa yang membawamu berbuat seperti ini ?
8. Al
Hasan berkata : seorang mukmin adalah pemimpin dirinya, menghisab
dirinya karena Allah, sesungguhnya hisab pada hari kiamat itu menjadi
mudah bagi kaum yang menghisab dirinya didunia, dan susah hisab pada
hari kiamat bagi kaum yang tidak mempedulikan muhasabah.
Beberapa macam muhasabah diri
Muhasabah diri terbagi menjadi dua : sebelum perbuatan dan sesudah perbuatan.
Macam
yang pertama : muhasabah diri sebelum perbuatan yaitu seorang hamba
melihat awal kemauannya, dan jangan bersegera beramal hingga jelas
perioritas amalannya. Al Hasan berkata : Allah memberikan rahmat kepada
seorang hamba yang melihat tujannya, bila tujuannya karena Allah dia
melakukannya, dan bila tidak dia mengakhirkannya.
Macam yang kedua : muhasabah diri setelah perbuatan
Dan ia terbagi menjadi tiga :
Yang
pertama : muhasabah diri terhadap ketaatan yang dilakukan dengan tidak
sempurna, hak Allah dalam ketaatan terbagi menjadi 6 perkara :
1. Ikhlas dalam melaksanakan perbuatan.
2. Nasehat karena Allah
3. Mengikuti Rasulullah Saw dalam amalannya.
4. Menyaksikan kebaikan Allah
5. Menyaksikan pemberian Allah kepadanya.
6. Menyaksikan kekurangan dirinya dalam beribadah.
Dengan demikian seorang hamba menghisab dirinya apakah dia sudah mendapat haknya pada maqam ini ?
Apakah dia menjalankan hak-hak-Nya pada ketaatannya ?
Yang kedua : menghisab dirinya pada setiap amalan yang ditinggalkannya itu lebih baik dari pada dilakukannya.
Yang
ketiga : menghisab dirinya pada perbuatan mubah atau perbuatan yang
biasa dilakukan, kenapa dilakukan ? apakah menginginkan dengannya pahala
Allah dan tempat diakhirat ? atau ingin beruntung, atau mempunyai
keinginan didunia dan balasan yang disegerakan didunia ? maka dia akan
merugi dan tidak akan mendapatkan keberuntungan dengannya.
Beberapa penyebab yang dapat menolong untuk bermuhasabah dan mempermudah muhasabah :
1. Pengetahuannya
bahwa semakin rajin dia bermuhasabah dirinya sekarang, maka dia akan
mendapatkan ketenangan dihari kelak, dan semakin dia meremehkan
muhasabah sekarang maka dia akan menjadi berat dihari penghisaban.
2. Pengetahuannya
bahwa keuntungan muhasabah diri dan pengawasannya adalah tempat di
surga firdaus, dapat memandang wajah Rabb, dan berdampingan tempat
dengan para nabi, orang-orang shaleh, dan orang-orang bijak.
3. Melihat
kehancurkan orang-orang yang meninggalkan muhasabah dirnya, dan
dimasukkan kedalam neraka, dan dihajab dari rabbnya, serta berdampingan
dengan orang kafir, sesat dan orang-orang jahat.
4. Berteman
dengan orang-orang baik yang selalu bermuhasabah diri dan melihat
kekurangan dirinya, dan meninggalkan berteman dengan selainnya.
5. Melihat keadaan orang-orang yang selalu bermuhasabah dan melihat keadaan para salaf yang shaleh.
6. Berziarah
kubur dan memikirkan keadaan orang-orang yang telah meninggal yang
tidak bermuhasabah dir atau memenuhi yang telah ditinggalkan.
7. Menghadiri majlis ilmu, nasehat, dan dzikir karena itu dapat mengajak pada muhasabah diri.
8. Bangun malam, membaca Quran, dan mendekatkan diri pada Allah dengan berbagai macam ketaatan.
9. Menjauhkan diri dari tempat-tempat sia-sia karena itu dapat menyebabkan manusia lupa dari bermuhasabah diri.
10. Berdzikir
pada Allah dan berdoa pada-Nya supaya dijadikan orang yang bermuhasabah
dan bermuroqobah, dan supaya diberikan ketetapan pada setiap kebaikan.
11. Berburuk
sangka pada diri, karena berbaik sangka pada diri menyebabkan kelalaian
bermuhasabah, dan mungkin seseorang melihat –dengan prasangka baiknya
terhadap dirinya- keburukannya dan kejahatannya sebagai kesempurnaan.
Bagi
orang mukmin yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah jangan
melupakan muhasabah dirinya, dan selalu berusaha dalam setiap keadaan,
karena setiap nafas sepanjang umur adalah permata yang sangat berharga
yang mungkin dapat dibelikan barang yang tidak ada habisnya
kenikmatannya sepanjang masa. Menyia-nyiakan nafas, atau pemiliknya
membelikan sesuatu yang dapat mendatangkan kehancurannya merupakan
kerugian yang sangat besar, dan ini tidak mungkin dilakukan kecuali oleh
orang bodoh, dan kerugian ini akan benar-benar tampak pada hari kiamat (Pada
hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebaikan dihadapkan (di
mukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; Ia ingin
kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh; dan Allah
memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan Allah sangat
Penyayang kepada hamba-hamba-Nya.(Ali Imron 30).
Saudaraku :
Taubah
bin As shumah termasuk orang yang menghisab dirinya, suatu hari dia
menghisab dirinya, didapatinya dia telah berumur enampuluh tahun, lalu
dia menghitung hari-harinya, ternyata berjumlah 21.500 hari, lalu dia
berteriak, celakalah aku ! aku akan bertemu dengan Tuhanku dengan 21.500
dosa ? bagaimana dan aku setiap hari melakukan ribuan dosa ? kemudian
dia jatuh pingsan dan meninggal, ada seseorang yang berkata :
berungtunglah engkau yang berlari kesurga firdaus.
Cara bermuhasabah diri
Imam Ibnul Qoyyim RA menyebutkan bahwa muhasabah diri dapat dilakukan dengan :
Pertama : memulai dari hal yang wajib, bila dia mendapatkan kekurangan maka usahakan memenuhinya.
Kedua
: kemudian larangan-larangan, bila dia mengetahui bahwa dia telah
berbuat satu dosa, maka tutuplah dengan taubat, istighfar dan kebaikan
yang dapat menghapusnya.
Ketiga : bermuhasabah diri atas kelalaian, dan menutupinya dengan dzikir dan menghadap Allah.
Keempat
: bermuhasabah diri atas gerak-gerik anggota tubuh, ucapan lisan,
perjalanan kedua kaki, perbuatan tangan, dan pendengaran kedua telinga,
apa yang kamu inginkan dengan ini semua ? dan untuk siapa dia
melakukannya ? dan demi apa kamu melakukannya ?
Beberapa faedah muhasabah diri adalah :
1. Melihat aib diri sendiri, dan barang siapa yang tidak mampu melihat aibnya sendiri maka dia tidak mungkin menghilangkannya.
2. Bertaubat, menyesal dan berusaha mengganti yang tertinggal dikala mampu.
3. Mengetahui hak Allah, karena dasar muhasabah diri adalah bermuhasaba atas keteledorannya terhadap hak Allah.
4. Merasa banyak salah dihadapan Allah.
5. Mengetahui
kebaikan Allah, ampunan, dan rahmat-Nya terhadap hamba-Nya bahwa Dia
tidak menyegerakan memberikan balasan walaupun mereka telah berbuat
kemaksiatan dan pelanggaran.
6. Mencoba menghilangkan ujub dan riya' terhadap amalan.
7. Berusaha sekuat mungkin untuk taat dan meninggalkan kemaksiatan agar mempermudah muhasabah.
8. Mengembalikan
hak-hak pada pemiliknya, dan meminta kerelaannya, dan berbudi baik, ini
merupakan buah dari muhasabah yang paling besar.
Umur kita :
Al
Fudhail bertanya pada seseorang : beberapa umur yang telah diberikan
padamu ? dia menjawab enam puluh tahun. Dia (al fudhail) berkata padanya
: anda sejak enam puluh tahun berjalan menuju Tuhanmu dan hampir
sampai.
Abu
al Darda' berkata : sesungguhnya anda adalah hari-hari, setiap kali
berlalu satu hari darimu maka berlalu pula sebagian darimu.
Saudaraku
Berapa
shalat yang telah anda tinggalkan ? berapa jumat ? berapa puasa ?
berapa zakat yang anda tidak keluarkan ? berapa haji ? berapa kebajikan
yang anda bermalas-malas melakukannya ? berapa kemungkaran yang anda
diamkan ? berapa pandangan haram yang anda lakukan ? berapa ucapan kotor
yang anda ucapkan ? berapa kali anda membuat kedua orangtuamu marah ?
berapa kali anda memperlakukan kasar terhadap orang yang lemah ? berapa
orang yang anda telah dzalimi ? berapa orang yang telah anda ambil
hartanya ?
Dari
Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah Saw berkata : Tahukah anda siapa itu
orang yang bangkrut ? mereka menjawab : orang bangkrut diantara kita
adalah orang yang tidak mempunyai satu dirhampun dan tidak mempunya
perlengkapan ? Beliau menjawab : sesungguhnya orang yang bangkrut dari
umatku adalah yang datang pada hari kiamat dengan shalat, puasa dan
zakat, dan dia datang dengan menghina ini, dan memakan harta ini, dan
menumpahkan darah ini, dan memukul ini, maka diberikan dari kebaikannya
dan ini dari kebaikannya, maka bila habis kebaikannya sebelum diberikan
keputusan padanya, diambil dari kesalahan mereka dan diberikan
kepadanya, kemudian dilemparkannya kedalam api neraka. HR Muslim.
· Sudahkan anda mengingat Allah ketika bangun tidur?
· Sudahkan anda sholat subuh di masjid hari ini?
· Sudahkan anda membaca dzikir pagi hari ini?
· Sudahkah anda memulai harimu dengan meminta kepada Allah agar memberimu rizki yang halal dan berhati hati dalam mencarinya?
· Sudahkan anda memohon kepada Allah tiga kali agar memasukkan anda ke dalam surga?
· Sudahkan anda memohon perlindungan Allah dari siksa neraka?
· Sudahkan anda memelihara seluruh sholat wajibmu dengan berjamaah di masjid tepat pada waktunya?
· Sudahkan anda hari ini melaksanakan sholat sunnah rawathib?
· Sudahkan anda disiplin membaca wirid setiap selesai adza dan sholat?
· Sudahkah anda khusu' dalam sholat dan memahami apa yang anda baca dalam sholat itu?
· Sudahkah anda bertaqwa kepada Allah dalam menjalankan usaha makan, minum dan berpakaian?
· Sudahkah anda memuji Allah atas nikmat Islam?
· Sudahkah anda Memuji Allah atas nikmat pendengaran, penglihatan,, hati dan nikmat yang lain?
· Sudahkah anda memanfaatkan waktu istijabah dan anda berdoa di dalamnya?
· Sudahkah anda membaca, mengkaji, menghafal dan mengamalkan kitabullah dan sunnah rasul?
· Sudahkan anda belajar sesuatu menjalankan kewajiban kewwjiaban agama dan hadir di pengajian?
· Sudahkah anda hari ini menjaga pendengaran, penglihatan dan seluruh anggota badan anda dari perbuatan haram?
· Sudahkah anda hari ini membaca sholawat atas nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam?
· Sudahkah andahari ini menjenguk orang sakit?
· Sudahkah anda hari ini ta'ziyah pada jenazah?
· Sudahkah andahari ini amar ma;ruf nahi munkar?
· Sudahkah anda memberi nasehat karena Allah?
· Sudahkah anda hari ini menolong sesama saudara muslimin?
· Sudahkah anda mematuhi perjanjian dan bersikap benar?
· Sudahkah anda hari ini bersikap ikhlas dalam perbuatan?
· Sudahkah anda berlaku ssederhana baik di kala miskin maupun punya?
· Sudahkah anda menyambung silaturahim?
· Sudahkah anda berlaku adil saat senang maupun marah?
· Sudahkah anda memaafkan perbuatan aniaya orang lain pada anda?
· Sudahkah anda memberi sesuatu pada orang yang belum pernah memberi pada anda?
· Sudahkah andah ari ini diam dan berpikir, ucapan anda, perbuatan anda lalu anda ambil pelajaran?
· Sudahkah anda mencintai dan membenci kerana Allah?
· Sudahkah anda berpikir unutk menjauhi teman yang jahat dan memilih teman yang baik?
· Sudahkah andamencari kenalan /saudara baru di jalan Allah?
· Sudahkah anda menghindari banyak tawa yang mengeraskan hati?
· Sudahkah andahari ini menangis takut siksaan Allah?
· Sudahkah anda hari ini bersedekah pada fakir miskin?
· Sudahkah anda hari ini tersenyum pada saudara muslim?
· Sudahkah anda meninggalkan amarah untuk kepentingan diri sendiri dan berusaha marah hanya karena Allah?
· Sudahkah andamenjaga lidah anda dari ucapan yang tidak bermanfaat?
· Sudahkah anda membiasakan diri dengan sikap santun, sabar, wara', taqwa, kasih sayang, tawakal dan ikhlas?
· sudahkan anda sabar dan istirja' saat ditimpa musibah?
· sudahkan anda memelihara sunnah?
· Sudahkah anda berpuasa sunnah hari ini?
· Sudahkah anda mengingat kematian?
· Sudahkah andamemanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya?
· sudahkan anda mengerjakan sholat sunnah?
·
Sudahkah anda memenuhi kewajiban baik atas diri, harta, orang tua,
anak, istri, kerabat, tetanggag dan hak dakwah di jalan Allah?
· Sudahkah anda melaksanakan amalan hari jum'at?
· Sudahkah anda menutup hari dengan taubatan nashuha dan istighfar dengan khusyu'?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar